Dan Indonesia tidak akan menyerah..!
“Dirman, engkau seorang prajurit. Tempatmu di medan pertempuran dengan anak
buahmu. Dan tempatmu bukanlah pelarian bagi saya. Saya harus tinggal di sini,
dan mungkin bisa berunding untuk kita dan memimpin rakyat kita semua.
Kemungkinan Belanda mempertaruhkan kepala Bung Karno. Jika Bung Karno tetap
tinggal di sini, Belanda mungkin menembak saya. Dalam kedua hal ini saya
menghadapi kematian, tapi jangan kuatir. Saya tidak takut. Anak-anak kita menguburkan
tentara Belanda yang mati. Kita perang dengan cara yang beradab, akan tetapi …”
Soedirman mengepalkan tinjunya: “…Kami akan peringatkan kepada Belanda, kalau
Belanda menyakiti Sukarno, bagi mereka tak ada ampun lagi. Belanda akan
mengalami pembunuhan besar-besaran.” Soedirman melangkah ke luar dan dengan
cemas melihat udara. Ia masih belum melihat tanda-tanda, “Apakah ada instruksi
terakhir sebelum saya berangkat?” tanyanya. “Ya, jangan adakan pertempuran di
jalanan dalam kota. Kita tidak mungkin menang. Akan tetapi pindahkanlah
tentaramu ke luar kota, Dirman, dan berjuanglah sampai mati. Saya perintahkan
kepadamu untuk menyebarkan tentara ke desa-desa. Isilah seluruh lurah dan
bukit. Tempatkan anak buahmu di setiap semak belukar. Ini adalah perang gerilya
semesta”. “Sekali pun kita harus kembali pada cara amputasi tanpa obat bius dan
mempergunakan daun pisang sebagai perban, namun jangan biarkan dunia berkata
bahwa kemerdekaan kita dihadiahkan dari dalam tas seorang diplomat. Perlihatkan
kepada dunia bahwa kita membeli kemerdekaan itu dengan mahal, dengan darah,
keringat dan tekad yang tak kunjung padam. Dan jangan ke luar dari lurah dan
bukit hingga Presidenmu memerintahkannya. Ingatlah, sekali pun para pemimpin
tertangkap, orang yang di bawahnya harus menggantikannya, baik ia militer
maupun sipil. Dan Indonesia tidak akan menyerah!” Dirgahayu Tentara Nasional
Indonesia ke 68. Salam Indonesia Raya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar